Jumat, 06 Agustus 2010

Maaf Untuk Belatung

0
Pagi ini begitu banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepala...menjadikan matahari sebagai pedoman untuk menentukan arah kumelangkah untukku seperti mencari kepeting di sahara...matahari terlalu pagi untuk berkhianat (homicide)...termasuk mengapa cinta kemudian harus terbatasi pada ikatan formal pernikahan.Mengapa kemudian ilmu pengetahuan harus ditempuh secara bertele-tele yang endinganya itu adalah tambahan 2 atau 3 huruf dibelakang nama.Atau mengapa terlalu lama menunggu u mengatakan maaf pada bulan fitri dan mengapa terlalu banyak hukum yang mengatur sebuah masyarakat atas dasar keadilan...dan mengapa pula aku sangat peduli pada pertanyaan-pertanyaan itu...
ata seorang teman,hidup itu begitu sederhana...seminimal mungkin jangan merepotkan orang dan semaksimal mungkin dapat meringankan orang...yupzzz, sangat sederhana.

belum lagi pagi ini berlalu, pertanyaan-pertanyaan tersebut seakan membuat busuk otakku...dimana para serdadu belatung begitu gencar melakukan agresi-agriesinya hingga tidak menyisakan sedikitpun nutrisi untuk darahku.Semua jalan masuk dan jalur aliran darah ku di sweeping kalo-kalo saja ada vitamin yang diselundupkan masuk untuk menghajar tentara belatung ini...sekujur tubuh masih berada di atas kasur mencoba bangkit dan melupakan pertanyaan-pertanyaan ini.

Huhhh...matahari begitu cerah di luar sana. Seharusnya ini menjadi petanda yang bagus untuk memulai hari ini. Setelah begitu banyak pertanyaan yang muncul di kepala, para tentara belatung itu yang terlanjur menguasai otak ini menggiring aku untuk berpikir, mengapa aku dilahirkan, untuk apa aku ada di dunia dan mengapa pula aku begitu banyak mempunyai pikiran-pikiran busuk ala belatung. Tidakkah lebih baik aku menjalani hidup ini seperti para mereka yang tidak pernah bertanya tentang hidup?

Akupun mencoba untuk keluar dari penguasaan ala belatung otak dengan memikirkan hal termudah yang begitu sulit dilakukan. Maaf...

Maaf memang tidak pernah cukup untuk mereka yang selalu mengharapkan kesempurnaan pada tiap hal.Dalam dirinya dan di luar tubuh mereka, tak ada toleransi untuk setiap tindakan dan ucapan ketika hal itu mengganggu eksistensi mereka.Semua hal harus menjadi seperti apa yang mereka pikirkan tanpa harus memahami bahwa mereka bukan aku apalagi kami.

Tapi sungguh, saat ini tak ada yang bisa untuk diperbuat kecuali berkata maaf. Bahkan hampir saja aku tak bisa mengungkapkan kata itu dan entah mengapa...

Maafkan aku belatung...
maafkan aku wahai penghuni bumi...
maafkan aku pencipta semesta
karena aku pagi ini dan mungkin hari ini hanya mampu berkata maaf..

Selamat Datang di Dunia Pelacuran

0

Indahnya bulan yang kau lihat, jangan sampai mebuatmu tertipu. Dia mempunyai rona-rona hitam yang mungkin adalah sebuah borok yang akan membuatmu muntah bila kau korek.

Indah bintang yang menemaninya, jangan sampai membuatmu takjub. Sinar yang dia miliki dan pancarkan, begitu sulit menembus bumi hingga dia bertekuk lutut pada mentari siang hari.

Alam yang kau kira begitu bergembira dengan nyanyian-nyanyian malamnya, menyimpan begitu banyak misteri dan siapa saja bisa terjebak di dalamnya.

Hancurkan indah mereka , buka topeng mereka, ajak mereka bersamamu merenungi ketidak adilan yang kau sebut "Tuhan".

Untuk beberapa hal, saya sepakat dgn ketidakadilan…
Tapi, ketidakadilan sepihak menjadi sangat adil dipihak yang lain…Menjadi bagian dari kesempurnaanmu bagiku adalah niscaya. Semakin kau terang bagiku, gelapku tak mengapa…semakin kau bahagia, linangan air indera penerima cahaya tak jadi soal untukku…begitulah aku, menjadi untuk menyatu.

Seperti seorang ibu, yang tak pernah meminta imbalan dan sering tersakiti oleh anak-anaknya… aku telah diberi kekuatan untuk menjadi seorang ibu di depanmu…
Engkau boleh melihatku seperti indahnya bulan, indahnya bintang dan mendengar merduan nyayian alam…tapi kau tak akan pernah tahu tentang diriku apabila kau tidak berada dalam gelapnya malam yang sunyi.

Seperti seorang pelacur di depan taman makam pahlawan, mereka lebih tahu tentang hidup, cinta dan ketidakadilan dibandingkan kau, kalian dan mereka yang setiap waktu sebenarnya telah ‘melacur’…entah pada tatanan sosial yang kau ciptakan atau pada dominasi kesadaran yang mereka ciptakan untukmu agar kau dan kalian terlihat (bede’) lebih keren dan modis.

Adalah ruang dimana kita setiap waktu menjadi pelacur
Adalah mutlak setiap kata mengidentifikasikan kita adalah pelacur
Adalah topeng kehidupan yang kita gunakan untuk menutupi wajah sang pelacur
Adalah busana yang melekat pada badan kita demi memperlihatkan bahwa kita adalah pelacur…

Selamat Datang Di Dunia Pelacuran…

Sang Prima

0
 Menjadikan dirimu sebagai langkah awal untuk menapaki kisah, hingga keringat inipun seperti sungai gangga yang tak berhenti mengalir. Dan biarkan aku membukamu hingga aku tak lagi secara diam-diam mengintip dunia luar melalui celah karena aku sangat tahu celah ini takkan pernah cukup untuk kedua bola mataku.