Pagi ini begitu banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepala...menjadikan matahari sebagai pedoman untuk menentukan arah kumelangkah untukku seperti mencari kepeting di sahara...matahari terlalu pagi untuk berkhianat (homicide)...termasuk mengapa cinta kemudian harus terbatasi pada ikatan formal pernikahan.Mengapa kemudian ilmu pengetahuan harus ditempuh secara bertele-tele yang endinganya itu adalah tambahan 2 atau 3 huruf dibelakang nama.Atau mengapa terlalu lama menunggu u mengatakan maaf pada bulan fitri dan mengapa terlalu banyak hukum yang mengatur sebuah masyarakat atas dasar keadilan...dan mengapa pula aku sangat peduli pada pertanyaan-pertanyaan itu...
ata seorang teman,hidup itu begitu sederhana...seminimal mungkin jangan merepotkan orang dan semaksimal mungkin dapat meringankan orang...yupzzz, sangat sederhana.
belum lagi pagi ini berlalu, pertanyaan-pertanyaan tersebut seakan membuat busuk otakku...dimana para serdadu belatung begitu gencar melakukan agresi-agriesinya hingga tidak menyisakan sedikitpun nutrisi untuk darahku.Semua jalan masuk dan jalur aliran darah ku di sweeping kalo-kalo saja ada vitamin yang diselundupkan masuk untuk menghajar tentara belatung ini...sekujur tubuh masih berada di atas kasur mencoba bangkit dan melupakan pertanyaan-pertanyaan ini.
Huhhh...matahari begitu cerah di luar sana. Seharusnya ini menjadi petanda yang bagus untuk memulai hari ini. Setelah begitu banyak pertanyaan yang muncul di kepala, para tentara belatung itu yang terlanjur menguasai otak ini menggiring aku untuk berpikir, mengapa aku dilahirkan, untuk apa aku ada di dunia dan mengapa pula aku begitu banyak mempunyai pikiran-pikiran busuk ala belatung. Tidakkah lebih baik aku menjalani hidup ini seperti para mereka yang tidak pernah bertanya tentang hidup?
Akupun mencoba untuk keluar dari penguasaan ala belatung otak dengan memikirkan hal termudah yang begitu sulit dilakukan. Maaf...
Maaf memang tidak pernah cukup untuk mereka yang selalu mengharapkan kesempurnaan pada tiap hal.Dalam dirinya dan di luar tubuh mereka, tak ada toleransi untuk setiap tindakan dan ucapan ketika hal itu mengganggu eksistensi mereka.Semua hal harus menjadi seperti apa yang mereka pikirkan tanpa harus memahami bahwa mereka bukan aku apalagi kami.
Tapi sungguh, saat ini tak ada yang bisa untuk diperbuat kecuali berkata maaf. Bahkan hampir saja aku tak bisa mengungkapkan kata itu dan entah mengapa...
Maafkan aku belatung...
maafkan aku wahai penghuni bumi...
maafkan aku pencipta semesta
karena aku pagi ini dan mungkin hari ini hanya mampu berkata maaf..
Jumat, 06 Agustus 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


No Response to "Maaf Untuk Belatung"
Posting Komentar